Aku menikmati kopi Nescafe (bukan sponsor) yang diberikan
oleh mas Tomo (bukan nama samaran). “Yang kita cari di dunia ini adalah ketidak
pastain, ketidak pastian nasib, ketik pastian jodoh, ketidak pastian besok jadi
apa. Oleh karena itu, jangan memastikan apa yang belum kamu lakukan, jangan
pastikan sesuatu yang belum pasti, jangan pastikan ke-akan-an karena itu belum
terjadi, pokoknya jangan memastikan karena sesuatu itu belum pasti.” Amang
menyeru ke teman Goibnya.
“Lah terus apa yang dapat kita
pastikan?” Goib penasaran.
“Tidak ada. Eh kamu tahu tidak akhir-akhir ini ada yang menyatakan bahwa orang yang berbuat salah (menurut kebenaran dia) Ia memastikan bahwa orang yang salah akan berada di Nar. Padahal itu kekuasaan Tuhan.”
“Mang aku itu tanya ke kamu. Apa yang
pasti di diri kita?”
“Aku harus jawab?”
“Ya.” Goib menginginkan.
“Besok saya janji dengan teman saya
dan kami berdua memastikan akan bertemy dengan kesepakatan yang kami buat. Tapi
kepastian yang aku buat itu belum pasti. Itu namanya pasti yang tidak pasti.”
Amang mengawali.
“Terus yang pasti itu apa? Terus pasti
yang tidak pasti itu apa?”
“Kita selama ini mencari yang pasti
dalam hidup. Kita selama ini kebingungan mencari kepastian, bahkan mati-matian
mencari yang pasti. Padahal yang pasti itu tidak perlu dicari. Yang pasti dalam
di diri kita adalah mati. Kemudian pasti yang tidak pasti itu adalah yang kita
janjikan kepada orang lain, sering kita mengatakan kita pasti akan datang. Belum
melakukan saja sudah memastikan. Sesuatu yang akan kita lakukan itu semuanya
belum pasti, kecuali kematian.”
“Jos. Jos.” []
NB : Artikel ini telah diubah judulnya, dari Kopi Nescafe ke Pasti yang tidak pasti
NB : Artikel ini telah diubah judulnya, dari Kopi Nescafe ke Pasti yang tidak pasti