Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2018

Duniaku Bau Kotoran Tai

KAMARUDIN

Waktu itu salah satu sahabatnya  Amang sebutlah dia Finung pulang dari Magelang setelah mengikuti acara Maiyahan pada malam sebelumnya dan piknik-piknik di sekitaran kecamatan Borobudur. Dalam keadaan masih lelah dan kurang bertenaga ia memasuki kontrakan. 

“Jadi, kamu istirahat saja dulu.” Pinta Amang kepada sahabatnya yang tampak kelelahan.

“Amang. Aku ada kopi baru dari mbakku. Kalau mau dibuat, silahkan saja.”

“Iya.”  Amang mengambil kopi dan menyeduhnya.

Amang duduk dipojokan garasi kontrakan sambil menikmati kopi dan sebatang rokok. Garasi kontrakan yang berukuran lumayan besar sekitar enam kali empat meter, yang jadikan sebagai tempat tidur. Mereka terbiasa berbagi cerita dan sekedar kongkow tidak jelas di garasi.

Dalam satu tarikan asap rokok, Amang tiba-tiba berkata “Garasi ini bau tai, tainya mesti banyak sekali.” Amang begitu kesal dengan bau yang menggangu rokok-an dan minum kopinya. Amang kemudian pergi dari garasi dan pindah tempat tidur ke kamar tidur depan.
Belum saja Amang duduk. Tampak dirinya tidak betah dan mencium bau tai “ah kamar tidur kok gak pernah dibersihkan, kamar ini banyak tainya.” Amang pindah ke ruang tamu, dapur, dan seluruh ruang dalam kontrakannya. “Sama saja, kontrakan ini penuh dengan tai.”

Amang sangat kesal sekali, karena tidak bisa menikmati kopi dan rokoknya dengan damai. Dimana-mana ia dipenuhi dengan bau tai. Kemudia dia keluar kedepan rumah sambil memandangi tanaman yang ada didepannya. Dia meletakkan kopi disampingnya sambil menggerutu “ah disini bau tai juga, dunia ini penuh dengan tai.”

Kegagalan menikmati kopi dan rokok membuat Amang sangat-sangat kesal dan emosi gara-gara tai. Kemudian dia  masuk rumah, ia tak sengaja memandangi cermin di dinding ruang tamu. Tampak di cermin itu, bibir bagian atasnya ada tai yang menempel.

Seketika itu dia mengambil air dan membersihkannya. Amang kembali kepojokan garasi dan menikmati sebatang rokok dan kopi.

Ternyata kotoran tai yang baunya sangat menyengat itu tidak terletak pada ruangan yang ia tempati, bukan juga di dunia yang dia tinggali, namun ada di depan hidungnya. Kalau kotoran tai yang ada pada hidungnya tidak dia lihat dulu dan tidak dia bersihkan maka kemanapun kita pergi pasti akan mencium bau kotoran tai.

Maka oleh karena itu, Amang sebaiknya bercermin dulu ketika dia mencium bau kotoran, baru dia memantaskan dirinya lebih baik dulu, membuat dirinya rapi dan bersih sebelum minum kopi agar bau kotoran pada dirinya nihil. Dia jangan langsung menilai atau memaki ruangan-ruangan yang ia tempati. Semoga Amang kedepannya bisa membersihkan kotoran-kotoran pada dirinya.

Senin, 28 Mei 2018

Syakia. Melegakan Nafasku, Mengalir Dengan Indah

KAMARUDIN

Sementara Syakia menyapaku dan yang lain sibuk membicarakan tugas kuliah akhir semester. 

Sungguh aku bermain dengan hati. Senyum Syakia membuatku bermain hati. Melegakan nafasku, mengalir dengan indah. 

Sementara Syakia bertanya kepadaku. 
"Mas apa kabar?"

Aku belum menyelesaikan permainan hatiku. Syakia memulai dengan permainan baru.
"Aku baik-baik saja Sya. Kalau kamu bagaimana Sya?"

"Aku juga baik-baik saja mas. Ohya mas, aku pergi dulu ya. Aku mau menyelesaikan tugasku dulu sama teman-teman."

Syakia mengakhirinya dengan senyuman.

Hatiku membiru.[] 

Kamis, 17 Mei 2018

Siapapun Yang Kita Hadapi, Sejatinya Saat Itu Juga Kita Menghadap Tuhan

KAMARUDIN

Pantai Mawun, Lombok

Yang dipikirkan Amang hanya ingin membagikan pikiran-pikiran yang tidak biasa didengar oleh orang lain. Terkadang terdengar aneh dan nyeleneh. Walau Amang adalah orang yang biasa saja. Tapi pemikirannya diluar kebiasaan orang lain.

“Saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan.” Amang memulai aneh.

“Apa sih?” Tio dingin menghadapi Amang. Tidak tahu arah pembicaraan Amang.

“Kamu percayakan kalau kita bisa bertemu dengan Tuhan?”

“Iya saya percaya itu.”
Tio masih tidak paham pembicaraan yang dimaksud Amang.

“Tahu tidak maksud saya?” Amang mencoba mengkonfirmasi kepada Tio.

“Maaf aku tidak tahu. Kamu mau mengajak aku berpikir filosopi?”

“Tidak sih. Tapi aku ingin berbagi pola pikir. Bagaimana mau tidak?” Amang membujuk.

“Nggak ah. Malas.”

“Tapi aku akan membagikannya, walau kamu tidak mendengarnya.” Amang mencoba mempengaruhi. “Tio pasti percaya. Kalau kita bisa bertemu dengan Tuhan dimana-mana, kapan saja, dengan keadaan apapun. Tetapi kita tidak mampu melihat Tuhan dengan mata kita, sehingga terkadang kita merasa tidak menghadap Tuhan. Kamu juga percaya bahwa Tuhan Maha Melihat, Tuhan Maha Tahu apapun yang kita sembunyikan dan apapun yang kita tampakkan.”

Lah terus?” Tio terpengaruh. Mengambil posisi tegak menghadap Amang.

“Nah saat ini juga kamu menghadap Tuhan.” Amang nyeletuk.

“Ayolah aku lagi mau serius Amang. Aku mau mendengarkan kalimat-kalimat yang sepertinya bermanfaat bagiku.”

“Saya mau tanya ke kamu Tio. Kita kan sama-sama percaya, kalau kita bisa bertemu Tuhan dimana-mana?”

“Iya saya percaya tentang hal itu.”

“Kemudian sekarang kita ngobrol di sini. Apakah Tuhan saat ini ada di antara kita?” Amang mencoba memperjelas dengan memancing Tio berpikir.

“Iya. Tuhan saat ini ada di antara kita. Tapi kita tidak bisa melihat dengan mata kita. Kita bertemu dengannya saat ini.”

“Berarti kamu sudah tahu yang saya maksud dengan saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan.” Amang mau tahu sampai dimana pemahaman Tio.

“Aku sudah mulai tergambarkan.”

“Kemudian yang kedua. Kamu percaya bahwa Tuhan Maha Melihat –apa yang kamu sembunyikan kepada saya, Tuhan Maha Tahu– apa yang ada dalam hatimu saat menghadap kepada saya. Maka itu menunjukan juga bahwa saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan. Ini bukan berarti saya mempertuhankan diri. Ini hanya untuk memudahkan kamu memahami bahwa apapun yang kita lakukan di Dunia ini, bahwa sejatinya kita menghadap Tuhan. Jika kita melakukan kebaikan kepada makhluk Tuhan saat itu juga kita melakukan kebaikan dihadapan Tuhan. Begitu juga sebaliknya melakukan hal yang tidak baik kepada siapapun dan kepada apapun. Maka perbuatan tersebut kita lakukan di hadapan Tuhan.” Amang menjelaskan dengan panjang.

Tio merenug. Mencoba menyerap yang disampaikan oleh Amang. Ia mengernyitkan kepalanya untuk memfokuskan pikirannya.

Beberapa saat kemudian. “Baiklah aku paham dengan maksud pembicaraanmu kali ini. Luar biasa. Aku mulai terbuka pikiran. Ketika aku menghadap siapapun, menghadap apapun bahwa saat itu juga sejati aku menghadap Tuhan. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan Tuhan.” Tio sejenak merenggangkan jari tangannya.

“Ohya Amang hampir lupa menceritakan kisah Rasulallah SAW saat didatangi oleh lelaki yang tak dikenal. Lelaki itu datang dengan pakain sangat putih, rambutnya sangat hitam, dan tidak tampak sama sekali bekas perjalanan pada lelaki itu. Sehingga membuat hadirin yang bersama Rasulallah SAW terheran. Lelaki itu memposisikan dirinya sangat dengan Rasulallah SAW. Ia datang bertanya kepada Rasulallah SAW seperti orang yang lebih tahu dari pada Rasulallah SAW. Dari setiap pertanyaan yang dijawab oleh Rasulallah SAW, lelaki itu selalu merespon dengan mengatakan engkau benar. Salah satu yang ditanyakan oleh lelaki itu kepada Rasulallah SAW adalah Apa itu Ihsan. Kemudian Rasulallah SAW menjawab hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.” Amang menarik nafasnya sejenak. “Jadi hal tersebut menjadi penguat kita dalam melakukan apapun di dunia ini. Landasannya adalah Allah selalu melihat kita, Tuhan selalu mengetahui sesuatu yang kita lakukan. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah. Dia selalu mengawasi kita. Saat inipun Allah melihat kita. Mungkin kamu ingat bahwa tujuan manusia dan jin diciptakan di Dunia ini adalah untuk ibadah. Maka saat ini kita jadikan ibadah dan yakinlah Allah melihat kita.”

“Sebentar saya mau tanya. Lelaki yang datang kepada Rasulallah itu siapa?”

“Beliau adalah Jibril.”[]

Kamis, 03 Mei 2018

Ayah Luar Biasa Dan Ibu [Penjual di] Angkringan Yang Berpengetahuan

KAMARUDIN

#Sak1

3 Mei, Saya berada di garasi kontrakan milik teman saya. Aku menginap.

Dini hari 02.21
Aku bangun menonton Roma vs Liverpool dalam gelaran UEFA Champions League. Tidak sampai 5 menit aku kembali lagi ke kasur.

Terbangun dari tidur, tepatnya di jam 04.35, rasa kantukku sangat berat. Sekejap aku berdiri. Aku tidur lagi.

Pagi ke kampus, sekitar jam 8.

Urusan saya telah selesai, dan tidak sengaja aku bertemu dengan sahabatku, si Raisa. Dia harus berjalan agak terpincang, sepertinya ia tidak bisa mengendarai motornya. Ke kampus, dia diboncengi bapaknya. Sungguh ayahnya yang luar biasa menemani perjuangan anaknya untuk menyelesaikan dan kesuksesan kuliah anaknya.

Aku sapa dia dan sekaligus  juga ayahnya. Aku salim sama ayahnya, saya harus turun
dari motor dan salim sama bapaknya.

Di kampus 2 UNY saya sejenak menyejukkan badan di Perpustakaan. Bertemu dengan
teman saya, ngobrol dan guyon sebentar kemudian aku menuju angkringan.

"Mas". Sapa seorang wanita dengan semangat dari motor. Wajahnya ditutup masker
dan aku sepertinya tidak mengenal suaranya. Ah bikin tambah semangat saja.

Aku melangkahkan kakiku menuju angkringan. Sesampai di angkringan, ternyata nasi yang saya mau makan telah habis.

Aku menggantinya dengan susu dan gorengan dua. Cukup dengan harga 3.500. Lumayan mengganjal perut sampai malam.

Saat duduk dengan ibu yang jualan di angkringan. Kami mengobrol menganai ketidak sukaan saya makan ikan.

Saya ceritakan kepada beliau.
Aku tidak bisa makan ikan sejak SD bu. Sebelumnya saya sangat suka ikan, kalau dulu pas kecil 'kata ibu saya, kalau tidak ada  ikan, saya tidak mau makan. Tapi sekarang ikan tidak bisa masuk dari mulut saya. Semua yang hidup di air, aku tidak bisa memakannya, kecuali cumi. Aku sangat menyukai cumi.
 Ceritaku.

Pengetahuan seorang penjual di angkringan sangatlah luas, mulai dari urusan kampus saya.

Mas kamu udah mau selesai ya.
 Tanya dia padaku.
Iya bu. Tinggal penelitian.

Katanya besok PGSD mau di pindah ya ke pusat?

Kayaknya iya bu. Gedungnya tinggal finishing.

Tapi, paling 1 semester lagi gedung ini dipakai mas. Kan finising memerlukan waktu yang lumayan lama.
Pungkas dia.

Iya mungkin bu.

Magrib telah tiba. Aku pergi memotong rambut yang sudah sangat lebat seperti daun-daun beringin. Akhirnya dipangkas juga rambutku.

[Aku menulis ini di kamar kos no 1 punya teman saya. 03 Mei 2018]

Minggu, 01 April 2018

Kisah Anak dan Bapak Rebutan Air Susu

KAMARUDIN

Gunung Gajah, Purworejo

Perlulah sejak kecil, bahkan wajib anak-anak mengonsumsi ASU. Aku tidak menginformasikan sodara-sodara sekalian untuk yang jelek-jelek. Aku sedang ngomong baik sodara, sedang serius. Serius banget deh. Sumpah.

Aku itu orangnya baik, halus dan sangat mencintai siapapun. Sodara-sodara jangan suudzon dulu sama aku. Saking halusnya aku, temanku si Amelia tidak pernah menyapaku. Alasannya dia tidak bisa melihatku. Kayak makhluk alus aja aku.

Sebagai ibu yang benar-benar ibu harus memastikan anaknya mengonsumsi ASU, bayi harus dekat dengan ASU. Untuk kesehatan jasmani dan rohani anak, ASU sangat perlu dikonsumsi oleh anak-anak.

ASU itu bukan hewan walaupun ada hewan yang namanya ASU. Juga bukan kata jorok. Kalau sodara pernah dibilangin ASU sama temanmu. Aku sarankan, sodara jangan baper dulu. Itu mungkin gurauan temanmu -karena menurut orang alim, dunia itu hanya gurauan semata- dan tanda ia sangat mengenalmu. Nah anggap saja itu gurauannya.

ASU itu sebenarnya memiliki kepanjangan Air Susu Umi. Tuh kan aku sudah bilang kalau aku orangnya baik. Tuh buktinya, aku menginformasikan sesuatu yang baik.

Bagi ibu-ibu atau calon ibu, Air susu umi itu diberikan keanak-anakmu. Jangan kasih bapaknya saja. Woe bapak-bapak juga jangan mau minum sendiri dong, kalian harus berikan kesempatan anakmu untuk mengonsumsi air susu uminya.

Kalau kamu lihat anakmu minum air susu uminya, ya bersabar dulu lah pak. Giliran dong minum air susunya. Toh bapak juga bisa jajan susu seperti susu jahe dan susu Londomilk, kamu cukup keluar ke angkringan nanti dapat susunya. Kamu juga jangan khawatir pak air susu umi tidak akan habis kok. Stoknya tidak terbatas pak.

Gak usah sok-sok ngajari anakmu minum air susu uminya deh pak. Anakmu lebih pintar minum air susu pak. Gak usah alasan deh bapak-bapak. Kalau mulut anak sudah diputing susu uminya, anak secara otomatis akan minum air susu uminya. Ajaibkan, tidak ada yang mengajarinya tiba-tiba bisa.

Mengapa harus memberikan air susu umi ke anak yang masih bayi? Jonajoni menuturkan ke aku. 

Kalau air susu umi ekslusif diberikan ke anak akan memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan kehidupannya. Ada anjuran juga buat menyusui bayi selama dua tahun lo ibu-ibu.

Bapak-bapak harus bersabar dan ikhlas untuk berbagi sumber air susu sama anak ya. Kan bapak harus sayang anak. Ingatlah anakmu itu titipan Tuhan, maka berikanlah ia nutrisi yang baik.

Teman saya Jonajoni mengatakan lagi kepadaku bahwa hasil dari penelitian WHO, air susu umi itu selalu tersedia dalam keadaan bersih dari susu umi. Air susu umi selalu siap tersedia pada suhu yang tepat untuk dikonsumsi si anak. Jadi sodara-sodara jika punya anak langsung saja anakmu dikasih air susu umi. Jangan diganti susu pabrik, eman-eman air susunya.

Air susu umi itu tidak ada pengganti yang tepat untuk anak. Hanya air susu umilah yang dapat memenuhi gizi si anak. Beribu liter susu pabrik dan londomilk juga nggak bisa menandingi JOSSSSnya air susu umi. Ajaibkan, tentu ini keajaiban dari Tuhan.

Informasi lain dari seorang dokter juga menyebutkan bahwa apapun makanan seorang umi, entah hanya makan telo, kelepon, air susu umi disetiap umi kualitas dan gizinya sama. Wah sungguh ajaib.

Sebagai penutup, sodara pasti tahu lagu ini. Pok ame-ame belalang kupu-kupu. Siang makan nasi, malam minum susu.

Aku kira itu lagunya anak-anak. Ternyata lagu itu lagunya bapak-bapak. Kalau anak siang ya minum susu, malam ya minum susu. Tapi kalau bapak-bapak siang makan nasi, malam minum susu. Emang sodara pernah temukan bayi makan nasi.


Senin, 22 Januari 2018

Aku Lacurkan Istriku

KAMARUDIN
            
Kemashuran tubuh istriku, keindahan tubuhnya, keindahan pegunungannya, cantiknya pemandangan pada wajahnya. Membuat orang lain tergoda untuk menikmati istriku. Orang-orang datang kepadaku berusaha menawarku untuk mempelacur istriku. Dihadapkan bermilyaran uang di depan mataku.
            Tentu uang ini akan menguntungkanku, akan membuat aku menjadi orang yang sangat terpandang. Aku bisa membangun rumah bahkan istana, orang-orang akan menghormatiku dan menjadikan aku sebagai kebanggaan mereka. Karena aku akan begitu mudah menyogok mereka dengan uang yang aku punya.
            Biarkan istriku yang bekerja bagiku. Biarkan ia dieksploitasi keindahan tubuhnya, keindahan pegunungannya, dan cantiknya pemandangan pada wajahnya yang menggoda orang lain untuk menikmatinya.
            Anak-anakku berontak memintaku menghentikan perbuatanku. Tapi aku tidak peduli, toh ini juga untuk mereka. Kesejahteraan perut mereka, kemapanan baju mereka, kemilauan sepatu emas dan perhiasan yang melekat pada dirinya. Biarkan baju ibumu saja yang dibuka oleh mereka yang memberikan kita uang berlimpah-limpah.
            Anak-anakku berkata. “Kita tidak lagi punya harga diri. Ibu kita dijual harga dirinya, sedang ayah kita bersenang-senang akan hal itu. Bersenang-senang dengan uang yang bertumpuk-tumpuk, tapi lupa akan harga diri keluarga kita.”
            Aku cuma menganggap ini adalah protes anak-anak yang tidak tahu uang lebih berharga dari pada harga diri. Kebodohan anak-anakku dikarenakan aku ajarkan mereka tentang harga diri waktu kecil itu diutamakan. Saat mereka yakin sekali dengan kebenarannya tentang harga diri lebih berharga dari pada harta, mereka memberontakku.
Ingatlah anak-anakku itu hanya pelajaran atau pengetahuan yang hanya menjadi pengetahuan kognitifnya. Suatu saat kalian akan menghianatinya. Aku juga dulu diajarkan untuk menghargai diri sendiri, diajari mencintai diri sendiri, tapi seiring aku dewasa itu hanya sebatas pengetahuan. Sistem kekeluargaan yang dibangun dalam keluarga besar kita adalah penghianatan dari kakek nenek kalian. Walaupun diantara kakek nenek kalian mempertahankan harga diri mereka terkalahkan oleh sistem yang dibangun. Kakek nenek kalian yang baik lebih banyak diam.
Kalau kalian mau wahai anak-anakku untuk memperbaiki ibu kalian, keluarga kalian. Kalian harus berjuang lebih keras, punya tekad lebih keras untuk mengalahkan keburukan yang aku bangun.
Apa kalian kira bapak mu ini senang melacurkan ibu kalian? Tentu aku jawab tidak. Aku sangat membencinya, aku sangat mengutuknya. Tapi ada ancaman diluar itu, nenek kakek kalian yang jahat telah menumpuk hutang yang tak bisa saya bayar sehingga aku melacurkan keindahan ibu kalian.
Kalian wahai anak-anakku. Jika kalian memang benar-benar mau memperbaiki harga diri ibu kalian, keluarga kita ini maka sejak sekarang harus mandiri, berani berkorban waktu, singkirkan waktu tidur untuk jerih payah memikirkan solusi dan perjuangan kalian. Bapak kalian ini, yakin kalian akan bisa membangun harga diri ibu kalian dan keluarga kita.
Jangan biarkan ibumu dilacurkan oleh diriku. Dan jangan sampai kalian menikmati pelacuran itu.
Anak-anakku kalian pahami ini sebagai penjajahan saja. Mereka yang menikmati tubuh ibu kalian adalah penjajahan kepada keluarga kita. Walaupun yang terjadi sebenarnya adalah pelacuran atas ibu kalian, yang terjadi yaitu transaksi pelacuran antara yang dilacurkan dengan yang menggunakannya.

Ibu kalian mengatakan “yang terjadi saat ini adalah aku sedang dolacurkan, dijual harga diriku, diperkosa, dibuka bajuku, dieksploitasi isiku, pegununganku dihisap. Yang menikmati tubuhku bukanlah yang kalian percaya sebagai bapak dan juga bukan kalian yang menikmatinya. Bapak kalian dan kalian wahai anak-anakku hanya mendapatkan sisanya. Perjuangkanlah harga diri ibu dan keluarga kita.”

Jumat, 12 Januari 2018

BUKAN MASALAH PERBUATAN INTIMNYA

KAMARUDIN

Sidang dibuka dengan pernyataan yang diberikan oleh pemimpin sidang Dewan Perwakilan Hewan. “Sekelompok hewan di sebuah hutan sangat getol mengampanyekan anti berbuat intim diluar hubungan resmi hewani. Jika ditemukan pasangan yang melakukan perbuatan intim di luar hubungan resmi hewani maka akan dibuka aib mereka di media social hewani. Mereka menamainya Tangkap, Pamerkan, Laporkan.
Sontak beberapa kelompok hewan yang menyetujui hal itu, ada juga yang menolak dengan alasan mereka. Menurut sekelompok ayam yang sering gonta-ganti pasangan. “Ini tidak baik. Karena bukan masalah perbuatan intimnya, tapi masalah aib hewani. Menurut ayam ini adalah pelanggaran hak hewani.”
Sedangkan kelompok gagak mengatakan. “Bahwa ini tidak berimbang. Kalau mau menghindari perbuatan intim diluar hubungan hewani maka kita harus berusaha untuk memperbaiki anak-anak cucu kita, bukannya menunjukkan kebobrokan akhlak hewani. Goblok!”
Tetua hutan dari salah satu Singa mengatakan. “Anak-anak kita ini mau menyebarkan porno grafi dengan objek hewan lain, juga akan membuka aib orang lain. Menurut tetua kita dulu membuka aib ataupun memamerkan keburukan hewan lain itu adalah sesuatu yang tidak baik. Walaupun tujuannya adalah mencegah perbuatan mungkar, tidak akan baik hasilnya jika dengan cara kemungkaran. Kalau konsep tetua kita dulu mencegah kemungkaran itu harus dengan bijak, harus dengan kebaikan, bukan dengan mejelekkan hewan lain.”
Sidang kehewanan itu berlangsung cukup lama. Namun berjalan dengan arif dan lancar. Setiap perwakilan masing-masing Dewan Perwakilan Hewan dari setiap partai saling berendah hati. Tidak egois.
Pemimpin sidang akan melanjutkan sidang pada hari selanjutnya untuk menemukan kesepakatan yang tepat.

Jogja, 02 Januari 2018

Selasa, 02 Januari 2018

Kita Itu Miskin Kebutuhan, Miskin Pengetahuan Kebutuhan, Bahkan Kita Benar-benar Fakir

KAMARUDIN
Gunung Gajah, Purworejo

“Jalan-jalan membludak dengan kendaraan, manusia, terompet, dipuncak pergantian tahun kembang api diletupkan ke bawah langit atas bumi. Mereka yang datang mengaguminya. Itu kalau di jalan-jalan, bagaimana dengan pusat perbelanjaan. Mereka berlomba-lomba potong harga murah, malam itu menjadi pesta hedonisme. Pemuja barang.” Amang menyadari perkataannya frontal tidak di control asal mental.

“Kita itu miskin kebutuhan, miskin pengetahuan kebutuhan, bahkan kita benar-benar fakir. Enggak punya kekayaan. Itu yang membuat kita mudah kagum, menghabiskan uang tanpa mempertimbangkan barang yang dibeli termasuk dalam kebutuhan atau tidak. Kita sangat miskin pengetahuan kebutuhan.” Segi masuk menedah rangkain kata.

“Kita ini tidak hanya miskin pengetahuan, kita benar-benar miskin disegala hal.

“Maksudmu?"

“Tapi miskin kaya itu tidak menjadi masalah yang penting kita mampu bertahan pada Tuhan atau tidak. Banyak orang yang tidak fakir mereka malah mendustakan rezekinya. Banyak orang yang fakir selalu mensyukuri setiap rezeki yang diberikan Tuhan. Hidupkan bukan untuk bertahan hidup tapi untuk bertahan kepada Tuhan, itu tujuannya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu bersyukur. Ohya bahkan kita semua ini miskin secara materi di hadapan Tuhan bahkan di segala hal kita miskin di hadapanNya. Tidak ada yang bisa mendeklarasikan kekayaan di depan Tuhan.”

“Oh itu maksudmu. Mungkin orang-orang fakir seperti kita ini dekat dengan Tuhan ya?”

“Kamu kok ge-er banget. Kan tadi sudah saya bilang hidup itu bukan untuk bertahan hidup. Mau kaya mau miskin, bukan pada pada kaya dan miskinnya, tapi bagaiaman kita bertahan kepada Tuhan? Apakah kita berdusta atau bersyukur dengan kaya atau miskin kita? Kalau kamu selalu bersyukur dalam kedaan fakir maka itu menandakan kamu bertahan kepada Tuhan. Maka itulah kehidupan yang baik untukmu. Sekarang kamu tinggal pilih mau kaya tapi tidak bersyukur, atau mau fakir tapi tetap bersyukur?”

“Ya kedua-duanya dong, kaya tetap bersyukur.”

By the way apa hubungannya dengan perenungan malam tahun baru.” Amang terlupakan dengan awalanya.

“Malam tahun baru adalah gambaran kita saat ini yang miskin pengetahuan, miskin hiburan, miskin kebahagiaan, bahkan miskin harga diri. Kita itu mudah tergelincir oleh godaan materil, kita merelakan diri kita tidak menghargai kebahagiaan yang telah ada dalam diri kita.”

Senin, 01 Januari 2018

Aku Bercita-cita Dimanfaatkan Oleh Kamu

KAMARUDIN
Lombok

Saya sangat lupa nama pantai tersebut. Pantai itu ada di Lombok Tengah. Pantai itu saya lihat sebagai keindahan yang Kamu pancarkan.

“Mengapa kamu rela menulis? Padahal tidak ada yang membayarmu untuk itu.” Amang bertanya kepada dirinya.

Tiba-tiba Amang yang lain menjawab. “Menulis itu bukan tujuannya dijadikan profesi. Kalau menulis dijadikan profesi, maka kemungkinan besar yang saya tulis tidak dapat dipercaya dan hanya menjadi sampah.”

“Terus untuk apa?”

“Menulis itu untuk memberikan orang lain cara berpikir, membuka wawasannya, kalau kata orang soleh tujuannya bisa ibadah, bentuk pengabdiannya. Tapi aku melihat bahwa menulis itu untuk mengabdikan diri dan mengabadikan diri.”

“Apa kamu tidak mau menjadi penulis terkenal, bisa jalan-jalan kemana-mana, bisa memberikan seminar cara menulis yang baik.”

“Aku bukan yang itu. Aku adalah pada diri yang mengabdi dan abdi. Bukan untuk mempopulerkan diri, lebih baik saya mempopulerkan orang lain. Kalau menulis untuk tujuan mencari kepopuleran aku akan berhenti menulis. Buat apa menulis kalau tujuan saya agar terkenal, tapi tak memberi manfaat. Tujuan saya menulis ya untuk berbagi kemanfaatan, atau bisa yang paling tinggi adalah aku bercita-cita dimanfaatkan oleh yang punya ilmu.”[]

Jumat, 01 September 2017

Jelaslah Yang Kaya Itu Adalah Perokok

KAMARUDIN

"Ternyata ya satu orang terkaya di Indonesia itu menyamai 100 juta orang. Terus uangnya itu dikemanakan?" Segi bengong.



"Kamu itu tidak usah mikir, dan gak usah mikirin kekayaan orang lain."




"Memangnya kenapa?" Ia tidak senang mengangkat dagunya.




"Ya memang tidak usah dipikirin aja. Toh kamu juga tidak dapat bagian dari kekayaannya, malah kamu yang menambah kekayaannya. Jadi, kamu adalah orang yang luar biasa menyumbangkan kekayaanmu pada orang kaya. Jadi yang sebenarnya kaya itu siapa? Kamu atau orang yang uangnya ditumpuk sampai triliunan-triliunan?" Aku paling senang kalau membuat orang berpikir lagi tentang apa yang belum dia pikirkan.




"Ya jelaslah yang kaya itu yang memberikan kekayaannya." Segi mulai terpengaruh.

"Tapi sebentar dulu, kok saya bisa menyumbangkan kekayaan untuk orang terkaya di Indonesia?" Segi penasaran sambil membakar rokoknya.




"Kalau orang menjual rokok tujuannya biar apa?"




"Biar untung."




"Terus yang mengonsumsi rokok itu termasuk kamukan?" Aku ingin memastikan.




"Iya. Aku pengkonsumsi rokok setiap hari."




"Dari rokok itu orang yang jualan rokok dapat untung, bosnya yang jualan rokok juga untung, yang membuat rokok juga untung. Untungnya itu dari uang yang kamu belanjakan untuk merokok itu. Jadi kamulah yang menyumbangkan kekayaan orang yang paling kaya itu. Jadi yang sebenarnya kaya siapa? apakah dia ataukah kamu?"




"em em. Pemberi kekayaan dong dan itu aku. Benar juga." Ia meneruskan menghabisi rokoknya.[]

Coprights @ 2016, Blogger Template Dibuat oleh Templateism | Templatelib