Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2019

Percuma! Aku Menggunakan Perasaan Namun Kamu Tetap Saja Keras Kepala!

KAMARUDIN
Sembalun, www.hsh-stay.com


Saya pakai perasaan kamunya tetap keras kepala. Percuma!

Saya bersusah payah melewati jalanmu yang berliku-liku. Perjalananku melalui jalanmu naik turun. Memang dalam perjalananmu aku kagum dengan keindahan yang kau berikan padaku. Saat aku dipuncak tertinggi perjalananmu, kau nampak sangat Indah.

Rabu 24 April 2019. Aku melaluimu dengan penuh perjuangan. Sejak pukul jam 11 aku berjalan dari rumah menuju Bayan Kab. Lombok Utara. Perjalananku kali ini tidak begitu baik. Aku bersusah payah melalui jalan yang berliku dan menanjak sampai dengan Pusuk Sembalun Kab Lombok Timur.

Di Pusuk, terlihat hamparan alam yang indah. Sawah yang terbentang sangat Lapang. Gunung-gunung yang tinggi sangat mengagumkan diriku. Sembalun tempat yang sangat Indah.

Namun hari itu, Rabu 24 April, aku tidak ingin menikmatimu saat itu. walaupun kau sangat menggoda, sangat mempesona, sangat menawan, sangat cantik, sangat indah. Tidak membuatku tergoda untuk menikmati kamu. Sembalun. Karena aku ingin segera sampai di Bayan.

Aku turun dari pusuk. Wajah alam mu Sembalun masih saja menggodaku. Walaupun jalan berliku, menurun, berdebu, dan rusak parah. Kau masih terlihat mempesona Sembalun. Namun tetap saja rodaku terus ku putar melalui jalan yang tak lagi normal karena akibat gempa bumi dan tanah longsor yang terjadi 8 bulan lalu.

Walaupun disebagian tempat kau terlihat luluh lantah namun kau, Sembulan, tetap mempesona.

Aku meneruskan rodaku. Aku tak sabar rasanya ingin segera mengakhiri perjalanan di tengah indah mu sembalun. Aku ingin segera jauh darimu. Karena tidakku tahan lagi menghadapi perjalanan yang sangat amat melelahkan. Aku harus melalui jalanmu yang berliku, menurun, berlobang, berdebu, sejak turun dari Pusuk.

Walaupun aku sempat menikmati keindahanmu satu dua detik saja.

.

Setelah dua jam perjalanan aku sangat amat terasa lelah, capek, dan pusing melewati jalanmu yang berliku. Di Sajang bagian darimu Sembalun. Disana aku baru merasa sangat sial karena jalanmu yang tak normal. Aku terjatuh dari kendaraanku yang tidak mampu lagiku kontrol.

Aku berusaha memelankan motorku. Namun tak bisa. Aku sangat menggunakan perasaanku agar kecepatan motorku pelan, namun jalan-mu tetap saja keras kepala, egois, mau menang sendiri hingga menyebabkan aku terluka akibat kau telah menjatuhkan motorku. Percuma aku menggunakan perasaan namun kamu tetap saja keras kepala!

Dasar mau menang sendiri. Enyah saja aku.

Untungnya aku berkendara dengan safety riding, helm SNI-sarung tangan-jaket tebal-celana panjang-sepatu, sehingga tak membuatku lecet sama sekali. Walaupun begitu aku taka man sama sekali, motorku hancur, dadaku sakit akibat benturan dengan stang motor.

Syukurnya aku bisa mengangkat motorku dan kembali mengendarainya. Ah perjalanan kali ini melelahkan.

Aku mencari bengkel untuk memperbaiki motorku. Aku lihat tukang bengkelnya bersusah payah memperbaiki motorku. Kelihatannya dia sangat kesulitan. Satu jam kemudian motor sudah jadi. Dan aku tanyakan harga jasa dia. “Berapaan Bos?”

“10 ribu saja.”  Jawabnya.

Sabtu, 09 Maret 2019

Tidak Bertele-tele Untuk Menuju Perubahan

KAMARUDIN

 Perubahan ini tidak perlu dirapatkan, tidak perlu didiskusikan, dan tidak perlu studi banding di luar negeri. Perubahan ini hanya cukup memahami masalah dan menemukan solusinya. Tidak bertele-tele.

Sembari menikmati kopi malam pagi ini. Saya akan memberikan alasan mengapa blog ini berubah alamatnya, yang semula www.daunmaru.blogspot.com menjadi www.ayasmaru.blogspot.com tentu ini ada alasannya.

Sejak saya membuat blog ini, penggunaan kata daun juga memiliki alasan yang sedikit bermutu wkwk. Kenapa bermutu? Bagi saya daun itu memiliki fungsi meneduhkan, memproduk O2, gas O2 ini sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, jika kita memandang daun-daun dihutan maka mata kita akan disejukkan oleh pemandangan daun-daun itu. Oleh sebab itu, nama blog ini saya buat untuk pertama kalinya karena alasan tersebut. Dengan harapan tulisan yang saya bagikan diblog ini mampu meneduhkan, memberi manfaat, dan mengindahkan bagi para pembaca.

Seiring berjalannya waktu. Ada hal-hal yang membuat saya mengubah nama blog ini. Faktornya adalah dari luar. Tapi ini bukan karena factor adanya pilpres, pileg, atau atas kemunculan calon presiden fiktif yang menjadi hiburan masyarakat Indonesia yang bosan dengan situasi politik dalam negeri.

Factor perubahan nama atau alamat blog ini disebabkan oleh alasan yang tidak sangat penting. Perubahan dikarenakan kata MARU itu mirip dengan WARU. Nah kalau kita searching di google dengan keyword DAUN MARU maka yang muncul adalan DAUN WARU. Dan yang keluar pada gambar-gambar di google adalah daun-daun waru.

Kemarin, perubahan ini tidak menggunakan anggaran Negara, pemerintah daerah, ataupun pemerintah desa. Perubahan ini tidak perlu dirapatkan, tidak perlu didiskusikan, dan tidak perlu studi banding di luar negeri. Perubahan ini hanya cukup memahami masalah dan menemukan solusinya. Tidak bertele-tele.

Namun tulisan dalam blog ini harapannya tetap memberikan kesejukan, manfaat, dan meneduhkan siapa saja yang membaca maupun mendengarkannya.

Sabtu, 02 Februari 2019

Oh Air Mataku, Jangan Keluar Karena Kesedihan. Toh Dia Juga Gak Pernah Mikirin Aku

KAMARUDIN


Air.

Kamu pasti setiap hari melihatnya. Kamu tidak pernah bisa terpisah dari air. Kenyataannya kamu selalu butuh air. Bukan hanya kenyataannya tapi abstraknya kamu juga butuh air.

Orang yang haus butuh air. Mau bertani butuh air. Mau mandi junub butuh air. Mau wudhu butuh air. Mau nangis butuh air. Pipis-pun dibutuhkan air yang keluar. Kapal butuh air. Mau masak butuh air. Sikat gigi butuh air. Nyuci butuh air. Ngepel butuh air. Menulis artikel ini butuh air.

Tsunami butuh air. Banjir butuh air. Kalau tidak air, tidak akan banjir dan tsunami. Oleh karena itu mari kita singkirkan air dari dunia ini. Agar kita tidak kebanjiran, tidak terkena tsunami, dan kehidupan kita ditiadakan. wik wik wik wik.

Tubuh manusia butuh air. Hewan butuh air. Pohon butuh air.

Kesimpulannya air adalah kebutuhan primer setiap makhluk hidup, tapi aku gak tahu kalau iblis itu butuh air atau tidak, begitu juga malaikat dan jin. Coba Tanya mereka ya Generasi wlwl 5.0.

Kalau kata orang alim, air itu adalah sumber rezeki. Setelah saya pikir-pikir, benar juga. Ibu di kantin jual air, dapat duit dan jadi rezekinya. Pak Akua jualan air bisa jadi milyarder. Pak Tani mengairi tanaman, tanamannya jadi subur, dijual dapat duit.

Aku tonton drama korea juga, air itu di monopoli untuk dijual dan menjadi bisnis nasional. Ah itu Cuma drama. Tapi kalau dipikir-pikir bisa jadi. Adapu langkahnya, iya bisa saja ada yang sengaja mencemari lingkungan agar airnya rusak, agar bisnis airnya jalan. Dan beberapa tahun yang akan datang bisnis air akan menjadi bisnis paling jos di dunia. Bisa saja mengalahkan rokok.

Air oh air. Buat apa aku memikirkanmu toh kamu gak pernah memikirkanku dan kebanyakan orang juga gak bakalan mikirin kamu. Bagaimana bisa menjagamu? Bagaimana bisa memeliharamu? Air. Oh air mata, jangan keluar karena kesedihan.

Sekian dan terima pesanan air isi ulang. Air terjun benang stokel-pun butuh air yang harus dijatuhkan.

Jumat, 28 Desember 2018

Ajal Tsunami Tselat Tsunda

KAMARUDIN


Aku langsung mengalihkan pembicaraan tentang malam tahun baru. Karena logika berpikirku kalah sama pak Tujur.

Aku mengakui bahwa dia memiliki kematangan berpikir dan sangat bijaksana. Kalau hanya karena meniup terompet saja  menjadi yahudi, eh nanti malah malaikat menjadi yahudi dan tidak terjadi kiamat.

Pak Tujur tak lepas dari berita selat sunda yang mengalami Tsunami atau Tsunami Tselat Tsunda disingkat 3T. “Pak Tujur, pada tahun ini banyak yang bertemu ajalnya karena aktivitas alam. Gempa bumi di Lombok dan Sumbawa, gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, gunung meletus dan tsunami di Selat Sunda yang mengenai Lampung dan Banten. Bahkan juga karena kecelakaan pesawat terbang Lion Air.”

“Iya.” Kata pak Tujur. “Aktivitas alam terkhusus Bumi memang seharusnya begitu. Ia memiliki saat-saat tertentu untuk beraktivitas, karena bagi saya Bumi termasuk makhluk hidup. Ia butuh waktu istirahat, bernapas, beraktivitas, mengeluarkan kotoran, mengobati diri dari penyakit, butuh makan, butuh keamanan, butuh sahabat yang baik, dan butuh yang lainnya. Mungkin adanya gempa bumi adalah sebagai obat dia untuk memperbaiki unsur-unsur tulang belikatnya, detak nadinya. Gunung meletus sebagai bentuk dia mengobati diri, agar kulit-kulitnya tetap subur, aliran darah dalam tubuhnya tetap mengalir. Ah ngomong apa sih aku.”

“Tapikan aktivitas yang dilakukan oleh bumi itu menyebabkan terjadinya bencana, banyak orang meninggal dunia, kehilangan keluarga, sawah rusak, bangunan-bangunan hancur, dan banyak menyebabkan kerugian lainnya.” Aku menimpali.

“Ah bencana itu hanya menurut kebutuhan manusia saja. Misal, kenapa kok banjir dianggap bencana? Padahal air itu hanya memiliki aturan mengalir hanya ke sesuatu yang  kosong, ketempat yang lebih rendah, air mengalir ke rumah-rumah mu melebihi tinggi satu meter itu karena air hanya akan mengikuti lahan-lahan kosong. Kita menganggap air yang meluap dan menggenangi rumah tinggal kita, itu kita anggap sebagai bencana, karena kebutuhan tempat tinggal kita telah digenangi air. Hujan turun, kita menggerutu. Ah gak bisa pulang! Bisa terlambat nih! Ah hujan menghalangiku! Semuanya kita keluhkan, kita anggap bencana karena melihat dari sudut pandang kebutuhan kita.”

“Oh gitu ya pak.”

“Kalau menurut aku sih begitu. Kalaupun ada yang meninggal dunia, itupun bukan suatu kecelakaan bagiku. Bisa saja itu suatu keselamatan. Ya maksudku selamat di akhirat.”

“Lah kalau sudah mati begitu ya, memang sudah ajalnya pak.”

“Memangnya ajal itu hanya sebatas kematian? Mengapa kok gunung meletus tidak disebut ajal? Mengapa kemenangan PSS Sleman menjadi juara Liga 2 tidak disebut sebagai ajal? Mengapa kelahiran kita tidak disebut sebagai ajal? Mengapa Persija Jakarta menjadi juara Liga 1 tidak disebut sebagai ajal sepakbola? Padahal ajal adalah sesuatu yang tidak dapat ditunda, diundur, dibatalkan, dan dipercepat. Ajal itu mengenai momentum yang pas, ya bisa mati, hidup, keselamatan, aktivitas alam. Mengapa 3T, Tsunami Tselat Tsunda tidak disebut sebagai ajal, malah disebut bencana?” Pak Tujur serius.

Aku hanya diam dan tak ingin kalah untuk kedua kalinya. Aku ambil saja kopiku dan kutinggalkan pak Tujur sendiri.

“Bocah Cebong malah aku ditinggal. Kampret.”

Rabu, 19 Desember 2018

Duniaku Bau Kotoran Tai

KAMARUDIN

Waktu itu salah satu sahabatnya  Amang sebutlah dia Finung pulang dari Magelang setelah mengikuti acara Maiyahan pada malam sebelumnya dan piknik-piknik di sekitaran kecamatan Borobudur. Dalam keadaan masih lelah dan kurang bertenaga ia memasuki kontrakan. 

“Jadi, kamu istirahat saja dulu.” Pinta Amang kepada sahabatnya yang tampak kelelahan.

“Amang. Aku ada kopi baru dari mbakku. Kalau mau dibuat, silahkan saja.”

“Iya.”  Amang mengambil kopi dan menyeduhnya.

Amang duduk dipojokan garasi kontrakan sambil menikmati kopi dan sebatang rokok. Garasi kontrakan yang berukuran lumayan besar sekitar enam kali empat meter, yang jadikan sebagai tempat tidur. Mereka terbiasa berbagi cerita dan sekedar kongkow tidak jelas di garasi.

Dalam satu tarikan asap rokok, Amang tiba-tiba berkata “Garasi ini bau tai, tainya mesti banyak sekali.” Amang begitu kesal dengan bau yang menggangu rokok-an dan minum kopinya. Amang kemudian pergi dari garasi dan pindah tempat tidur ke kamar tidur depan.
Belum saja Amang duduk. Tampak dirinya tidak betah dan mencium bau tai “ah kamar tidur kok gak pernah dibersihkan, kamar ini banyak tainya.” Amang pindah ke ruang tamu, dapur, dan seluruh ruang dalam kontrakannya. “Sama saja, kontrakan ini penuh dengan tai.”

Amang sangat kesal sekali, karena tidak bisa menikmati kopi dan rokoknya dengan damai. Dimana-mana ia dipenuhi dengan bau tai. Kemudia dia keluar kedepan rumah sambil memandangi tanaman yang ada didepannya. Dia meletakkan kopi disampingnya sambil menggerutu “ah disini bau tai juga, dunia ini penuh dengan tai.”

Kegagalan menikmati kopi dan rokok membuat Amang sangat-sangat kesal dan emosi gara-gara tai. Kemudian dia  masuk rumah, ia tak sengaja memandangi cermin di dinding ruang tamu. Tampak di cermin itu, bibir bagian atasnya ada tai yang menempel.

Seketika itu dia mengambil air dan membersihkannya. Amang kembali kepojokan garasi dan menikmati sebatang rokok dan kopi.

Ternyata kotoran tai yang baunya sangat menyengat itu tidak terletak pada ruangan yang ia tempati, bukan juga di dunia yang dia tinggali, namun ada di depan hidungnya. Kalau kotoran tai yang ada pada hidungnya tidak dia lihat dulu dan tidak dia bersihkan maka kemanapun kita pergi pasti akan mencium bau kotoran tai.

Maka oleh karena itu, Amang sebaiknya bercermin dulu ketika dia mencium bau kotoran, baru dia memantaskan dirinya lebih baik dulu, membuat dirinya rapi dan bersih sebelum minum kopi agar bau kotoran pada dirinya nihil. Dia jangan langsung menilai atau memaki ruangan-ruangan yang ia tempati. Semoga Amang kedepannya bisa membersihkan kotoran-kotoran pada dirinya.

Sabtu, 16 Juni 2018

Wajahku Seputih Air Susu Yang Mengalir Di Surga

KAMARUDIN


Aku berburu shaf-shaf penghuni surga. Aku gelar sajadah beraroma surga. Sarungku sehalus sutra surga, koko seputih air susu yang mengalir di surga.  

Aku melakukan hal tersebut setiap shalat di masjid. Selalu aku rebut shaf pertama dari jamaah shalat apapun. Pengen dapat surga yang diberitahukan oleh orang-orang.

Di surga itu banyak bidadari yang bebas kita pilih sebagai pasangan kita. Kata orang-orang bidadari itu cantik-cantik, semuanya muda, tidak ada yang tua. Kita bebas makan minum apapun. Minta apapun boleh. 

Pikirku. Aku akan meminta wajahku seputih air susu yang mengalir di surga. wkwk

Itulah yang membuat aku semangat mengejar surga.

Tapi.

Tapi.

Tapi.

Tapi sejak aku bertemu Papuk Yani, aku tidak lagi semangat mengejar surga. Setiap solat aku tidak pernah merebut shaf pertama dengan tujuan surga. Malah aku persilahkan orang lain dahuluan. Jika ada yang lebih terdahulu menginginkannya maka aku berikan padanya.

Bukan alasannya tidak mau masuk surga.

Papuk Yani pernah memberi nasihat padaku. Seperti ini kata Papuk Yani pada waktu itu.

~Cucuku surga dan manusia itu sama-sama ciptaan Tuhan. Surga memang tempat yang indah, tapi ingat! Itu sama seperti kamu, surga dan kamu itu ciptaan Tuhan.

~Tuhanlah tujuan utamamu ibadah. Bukan surga. Surga itu pemberian cinta Tuhan padamu, tapi jika kamu mencintai Tuhan.

Aku tidak membenarkan kata Papuk Yani. Berbohonglah aku kepadanya. Aku mengiyakan dengan perkataan tapi tidak dengan keyakinan.

Teringat dengan pesan guru SD kelas 5 ku beberapa tahun yang lalu. Katanya, kalau kita menggantikan niat solat kita dengan “aku niat solat dzuhur karena surga” neraka siap mencabik-cabik dibelakang.

Merenung aku dalam solat.

“Masak iya aku solat karena surga. Kan surga itu ciptaan Tuhan juga, setara dengan aku. Tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Jadi tidak ada ibadah yang diniatkan kecuali kepada Allah.”

Setelah perenungan. Aku menggali kuburan, mengambil korek, dan pernak-pernik solat. Aku masukkan pernak pernik solatku seperti koko, sarung, peci, dan sajadah. Kemudian aku bakar.

Aku menyesal. Aku lupa kalau aku tidak punya koko, sarung, peci, dan sajadah selain yang aku bakar.

Goblok. Goblok. Goblok.

Air mataku menetes ke atas dengan mata terpejam. Mulut tebuka lebar. Berdengung hahahaha. Aku menertawakan penderitaanku.

Aku pakai saja pakaian seadanya yang dapat menutup aurat. Aku bekerja dengan Jin, aku pakai untuk menutup aurat bagian bawah.

NB. Jin = jeans

Selasa, 22 Mei 2018

Akhlak Kita Kepada Makhluk Tuhan Merupakan Akhlak Kita Kepada Tuhan

KAMARUDIN

Ngopi @kafeblandongan Yogyakarta
“Akhlak kita kepada makhluk Tuhan yang lain merupakan akhlak kita kepada Tuhan. Kalau kita menghadap ke Tuhan dengan ikhlas dan begitu juga seharusnya ke orang lain dengan ikhlas. Kalau yang kita lakukan ke Tuhan adalah kebaikan maka begitu juga kita ke makhluk Tuhan. Sebenarnya saya cukup berat mengatakan bahwa makhluk hidup adalah perwujudan dari Tuhan –takutnya orang lain salah memahaminya.”  
Amang duduk mantap dengan mengangkat kaki kanan setengah sambil menikmati kopi.

“Sama saja kamu mengatakan Makhluk adalah Tuhan dong Mang. Tapi benar juga sih Mang maknanya tidak menuhankan manusia. Manusia ada karena Tuhan.” Finung memahami isi pembicaraan Amang.

“Pemikiran ini saya temukan ketika saya melaksanakan solat maghrib.”

“Kok bisa! Berarti itu menandakan solatmu tidak khusuk?”

“Aku tidak tahu. Tapi proses datangnya ilmu bagi saya itu melalui medium yang sangat luas, artinya lewat apapun dan proses apapun bisa. Sholat yang khusyuk juga shalat yang dapat dinikmati keindahannya.” Amang menegaskan.

“Ya ya ya.” Finung menyetujui.

Mereka berdua serius dengan pembicaraan itu. Pembicaraan mereka yang mendalam biasanya dilakukan dengan serius dan cermat. Finung, kenyataannya memiliki kemampuan berpikir luas, dalam, dan berimbang. Tapi karena dia adalah adik dari Amang, ia merendah hati dan iklhas menjadi pendengar setia kakaknya.

“Kembali ke akhlak.  Menurut saya juga, bahwa goal dari ibadah dan alqur’an adalah akhlak. Goal yang saya sebut ini adalah salah satu dari banyak goal lainnya. Akhlak merupakan bentuk konkrit dari Rahman dan Rahim. Dalam pembukaan kitab Al-qur’an sifat Tuhan yang inilah yang pertama-tama disebut. Dengan arti lain bahwa Tuhan adalah zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha pengasih dan penyayang adalah akhlak yang sangat agung dari Tuhan. Maka manusia yang diajari oleh Tuhannya untuk selalu berbuat pengasih dan penyayang kepada makhluk tuhan yang lainnya, idealnya melakukan hal tersebut dalam setiap tingkah lakunya.” 

Amang menyentuh Al-Qur’an dan ibadah. Tidak lain maksud Amang memberikan pemahaman-pemahaman yang membuka pikiran Finung adalah untuk menjadi kebaikan tersebar kesuluruh jagat Bumi.

“Eh kopimu habis Mang.” Finung menjeda.

“Aku minta tolong boleh?”

“Buatin kopi kah?”

“Ya, kamu kok pengertian sekali apa yang aku mau. Semoga kepedulianmu selalu bertambah.” Amang menggoda.

“Tapi ada syaratnya Mang.”

“Oke syaratnya apa?”

“Tambahin ilmu buat aku dong nanti tentang pertanyaanku yang selama ini selalu ada dalam pikiranku.” Finung menarik pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya.

“Ya ya, kamu buatin kopi saja dulu buat kakak.”

“oke.” Finung pergi meninggalkan tempat duduknya.
         
Suasana pagi semakin dingin. Hujan di luar rumah semakin deras menambah suasana semakin santai dengan kopi, akan lebih santai dari pada mengeluhkan hujan turun yang menunda pekerjaan di sawah punya ayahnya. Ini juga merupakan suatu hal yang baik untuk bersantai, beristirahat dari pekerjaan yang tidak selesai-selesai.
            
           “Tadi Amang mengatakan bahwa makhluk adalah perwujudan dari Tuhan.” Nurdin masuk ke tempat duduk santaiku.
           
          “Terima kasih kamu telah mengingatkan. Ohya tidak tepat juga sih kita menyatakan makhluk sebagai perwujudan Tuhan. Karena Tuhan tidak ada yang dapat menandinginya. Tidak ada yang serupa denganNya. Mungkin yang tepat untuk sekarang, makhluk adalah bukti adanya sang pencipta yaitu Tuhan.”
          “Kalau makhluk sebagai perwujudan Tuhan mungkin terlalu ekstrim. Nanti akan terjadi banyak anggapan yang memancing dan menyulutkan pendapat yang disertai dengan ketidak objektifan saudara-saudara kita untuk melakukan konfirmasi kepada kita yang mengatakan bahwa makhluk adalah perwujudan Tuhan. Mungkin untuk sekarang dengan cara berpikir saudara-saudara kita maka kita sebut dengan bukti adanya Sang Pencipta. Tuhan.” Finung mengimbangkan.

Amang merasakan sesuatu yang kurang dalam hatinya. Ia melanjutkan perkataannya. “Tapi sebenarnya untuk sementara ada dua kemungkinan asal diciptakannya manusia dan makhluk lainnya. Yaitu dari Tuhan itu sendiri atau dari ketiadaan menjadi ada. Tuhan menciptakan makhluk dari ketiadaan menjadi ada. Makanya dari kedua hal tersebut aku menyatakan bahwa Makhluk atau manusia adalah perwujudan Tuhan atau kalau lengkapnya perwujudan dari adanya Tuhan.”

“Penggunaan kalimat yang lebih baik menurut aku menggunakan kalimat Makhluk adalah perwujudan dari adanya Tuhan.” Finung menyampaikan pendapatnya.

“Ya. Mungkin itu lebih baik agar orang lain lebih mampu memahaminya.” Amang menyepakati usulan Finung.[]

Kamis, 17 Mei 2018

Siapapun Yang Kita Hadapi, Sejatinya Saat Itu Juga Kita Menghadap Tuhan

KAMARUDIN

Pantai Mawun, Lombok

Yang dipikirkan Amang hanya ingin membagikan pikiran-pikiran yang tidak biasa didengar oleh orang lain. Terkadang terdengar aneh dan nyeleneh. Walau Amang adalah orang yang biasa saja. Tapi pemikirannya diluar kebiasaan orang lain.

“Saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan.” Amang memulai aneh.

“Apa sih?” Tio dingin menghadapi Amang. Tidak tahu arah pembicaraan Amang.

“Kamu percayakan kalau kita bisa bertemu dengan Tuhan?”

“Iya saya percaya itu.”
Tio masih tidak paham pembicaraan yang dimaksud Amang.

“Tahu tidak maksud saya?” Amang mencoba mengkonfirmasi kepada Tio.

“Maaf aku tidak tahu. Kamu mau mengajak aku berpikir filosopi?”

“Tidak sih. Tapi aku ingin berbagi pola pikir. Bagaimana mau tidak?” Amang membujuk.

“Nggak ah. Malas.”

“Tapi aku akan membagikannya, walau kamu tidak mendengarnya.” Amang mencoba mempengaruhi. “Tio pasti percaya. Kalau kita bisa bertemu dengan Tuhan dimana-mana, kapan saja, dengan keadaan apapun. Tetapi kita tidak mampu melihat Tuhan dengan mata kita, sehingga terkadang kita merasa tidak menghadap Tuhan. Kamu juga percaya bahwa Tuhan Maha Melihat, Tuhan Maha Tahu apapun yang kita sembunyikan dan apapun yang kita tampakkan.”

Lah terus?” Tio terpengaruh. Mengambil posisi tegak menghadap Amang.

“Nah saat ini juga kamu menghadap Tuhan.” Amang nyeletuk.

“Ayolah aku lagi mau serius Amang. Aku mau mendengarkan kalimat-kalimat yang sepertinya bermanfaat bagiku.”

“Saya mau tanya ke kamu Tio. Kita kan sama-sama percaya, kalau kita bisa bertemu Tuhan dimana-mana?”

“Iya saya percaya tentang hal itu.”

“Kemudian sekarang kita ngobrol di sini. Apakah Tuhan saat ini ada di antara kita?” Amang mencoba memperjelas dengan memancing Tio berpikir.

“Iya. Tuhan saat ini ada di antara kita. Tapi kita tidak bisa melihat dengan mata kita. Kita bertemu dengannya saat ini.”

“Berarti kamu sudah tahu yang saya maksud dengan saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan.” Amang mau tahu sampai dimana pemahaman Tio.

“Aku sudah mulai tergambarkan.”

“Kemudian yang kedua. Kamu percaya bahwa Tuhan Maha Melihat –apa yang kamu sembunyikan kepada saya, Tuhan Maha Tahu– apa yang ada dalam hatimu saat menghadap kepada saya. Maka itu menunjukan juga bahwa saat kamu menghadap aku, saat itu juga kamu menghadap kepada Tuhan. Ini bukan berarti saya mempertuhankan diri. Ini hanya untuk memudahkan kamu memahami bahwa apapun yang kita lakukan di Dunia ini, bahwa sejatinya kita menghadap Tuhan. Jika kita melakukan kebaikan kepada makhluk Tuhan saat itu juga kita melakukan kebaikan dihadapan Tuhan. Begitu juga sebaliknya melakukan hal yang tidak baik kepada siapapun dan kepada apapun. Maka perbuatan tersebut kita lakukan di hadapan Tuhan.” Amang menjelaskan dengan panjang.

Tio merenug. Mencoba menyerap yang disampaikan oleh Amang. Ia mengernyitkan kepalanya untuk memfokuskan pikirannya.

Beberapa saat kemudian. “Baiklah aku paham dengan maksud pembicaraanmu kali ini. Luar biasa. Aku mulai terbuka pikiran. Ketika aku menghadap siapapun, menghadap apapun bahwa saat itu juga sejati aku menghadap Tuhan. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan Tuhan.” Tio sejenak merenggangkan jari tangannya.

“Ohya Amang hampir lupa menceritakan kisah Rasulallah SAW saat didatangi oleh lelaki yang tak dikenal. Lelaki itu datang dengan pakain sangat putih, rambutnya sangat hitam, dan tidak tampak sama sekali bekas perjalanan pada lelaki itu. Sehingga membuat hadirin yang bersama Rasulallah SAW terheran. Lelaki itu memposisikan dirinya sangat dengan Rasulallah SAW. Ia datang bertanya kepada Rasulallah SAW seperti orang yang lebih tahu dari pada Rasulallah SAW. Dari setiap pertanyaan yang dijawab oleh Rasulallah SAW, lelaki itu selalu merespon dengan mengatakan engkau benar. Salah satu yang ditanyakan oleh lelaki itu kepada Rasulallah SAW adalah Apa itu Ihsan. Kemudian Rasulallah SAW menjawab hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.” Amang menarik nafasnya sejenak. “Jadi hal tersebut menjadi penguat kita dalam melakukan apapun di dunia ini. Landasannya adalah Allah selalu melihat kita, Tuhan selalu mengetahui sesuatu yang kita lakukan. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah. Dia selalu mengawasi kita. Saat inipun Allah melihat kita. Mungkin kamu ingat bahwa tujuan manusia dan jin diciptakan di Dunia ini adalah untuk ibadah. Maka saat ini kita jadikan ibadah dan yakinlah Allah melihat kita.”

“Sebentar saya mau tanya. Lelaki yang datang kepada Rasulallah itu siapa?”

“Beliau adalah Jibril.”[]

Coprights @ 2016, Blogger Template Dibuat oleh Templateism | Templatelib