Selasa, 13 November 2018

Kopi Ala Presiden

KAMARUDIN


Disuatu pagi, aku dibuatkan kopi oleh presiden terpilih Negara Kopi Panas.

Oh indahnya pagiku. Aku punya presiden yang sangat mengerti dan mencintai pemilik Negara Kopi Panas.

~Jangan lupa Ngopi.~


Sabtu, 01 September 2018

Ketika Kamu Melamar Dia, Ini Rahasia Luluhkan Hati Calon Mertua

KAMARUDIN

Pernikahannya Mbak Rosi, Banjarnegara, Jawa Tengah
Ketika diri menagih hati untuk memiliki seorang kekasih. Diri terlanjur sayang. Dengan hati ikhlas, diri harus siapkan segala sesuatu untuk memiliki kekasih.

Memiliki kekasih bukan perkara mau sama mau. Tapi perkaranya adalah diri dengan calon mertua. Terkadang disinilah tantangannya.

Sering kali ada saja cerita, kalau calon mertua bertanya hal yang kamu tidak duga.

Eh tapi jangan khawatir, itu perkara mudah. Ini tips buat kamu luluh lantahkan hati calon mertua.

Cobalah percakapan seperti ini.

“Pak. Saya mau melamar anak bapak.”

“Anakku yang mana?” Kata calon mertua.

“Yang sebelah bapak.”

“Memang kamu modal apa melamar anakku.”

“Tidak banyak sih pak. Aku hanya punya dua rokaat sebelum Subuh.”

“Apa itu?”

“Dunia dan seisinya.”

“Hanya itu! Aku mau lebih dari itu.”

Jika calon mertua tidak puas dengan jawabanmu. Lanjutkanlah seperti berikut.

“Bukan hanya itu pak, sekarang juga. Aku akan memiliki anak bapak.”

“Kurang ajar ya kamu.”

Kamu jangan kecut sampai disini. Kamu harus memperkuatkan mentalmu. Tanyakan lagi kepada calon mertuamu.

“Memang bapak maunya apa?”

“Aku hanya mau kamu jadi menantuku.”

Nah diterimalah dirimu. Eh tapi belum tentu. Kan kamu tidak sendirian datang ke rumah calon mertuamu. Kamukan bawa teman.

“Kamu yang aku pilih sebagai menantuku.” Calon mertua menunjuk temanmu. Dan ternyata kamu hanya mengantarkan temanmu. Kamu hanya juru bicaranya.

Kalau seperti itu, kamu tidak perlu putus asa. Tapi putuskan hubunganmu dengan calon pasanganmu tadi. Apapun hubungannya.

Jika itu yang terjadi pada dirimu. Tidak dapat kamu pungkiri lagi bahwa tidak ada pundak lagi tempat kau bersandar. Tapi jangan khawatir.

Jika tidak ada pundak tempat kau bersandar, ingatlah! Ada tanah tempat kau bersujud. –EAN-

Minggu, 12 Agustus 2018

Rupaku Pengikut Dajal, Janjiku PuraPura Surga

KAMARUDIN


Hiruk-pikuk di negeri seberang. Berlomba-lomba memperlihatkan beribu rupa dari satu rupa. Rupa-rupa itu dirupakan sedemikian rupa. Dicat, ditato, dilukis, diwarnai, diukir, dan berbagai cara demi mendapatkan citra dari berbagai angel.

Rupa yang tak serupa dari rupa yang sebenarnya.

Aku melangkah menjauh dari rupa-rupa, merenungkan rupaku sendiri apakah rupaku seperti rupa mereka. Tak mampu aku menjauh dari rupa-rupa itu. Aku diseret rupa-rupa untuk percaya pada rupa-rupa yang pura-pura merupa sedemikian rupa agar dapat menarikku.

Beribu rupa-rupa itu menjanjikanku kesejahteraan, rupa-rupa itu menggambarkan layaknya surga padaku. Datang dari barat juga utara seberang negeri.

Rupa-rupa itu berupaya menutup mata sebelah kananku. Seketika aku ingat dengan rupa-rupa dajal dan ya’juj-ma’juj.

Pernah aku diceritakan bahwa dajjal itu bermata satu. Ia menjanjikan surga namun memberi neraka. Menjadikan rupa neraka pura-pura surga.

Rupaku pengikut Dajjal, jika saja aku tergoda rupa-rupa yang pura-pura surga, maka aku bagaikan ya’juj ma’juj yang gila gedung tinggi, tempat tinggi, tahta negeri, ketenaran, dan janji-janji yang pura-pura surga.

Dajal abad 21, menjanjikan kesejahteraan, keamanan perut, menawarkan pembangunan, dan pelan-pelan membunuh.

Saat ini mungkin setan sudah tidak menjadi musuh lagi, sekarang ia menjadi teman, menjadi teman akrab tiap detik disetiap ruang.  Hingga terpedaya mengikuti janji-janji Dajal.
Biarkan aku tinggalkan rupa-rupa itu.

Kamis, 09 Agustus 2018

Ngomong Benar Apa Saja, Itu Bisa Salah

KAMARUDIN

Semakin banyak belajar, semakin banyak yang aku tidak ketahui. Oleh karena itu kita sinau bareng.

Ngomong benar apa saja, itu bisa salah. Oleh karena itu kita belajar dari banyak pandang, banyak sudut agar kita tidak terjebak dalam keegoisan.

Pancasila (nasionalisme) tidak mengganggu orang lain saat ada lampu merah dengan patuhi aturan. 

Dari sinau bareng kita mari meningkatkan rasa kemanusiaan kita, dengan cara empati, membantu saudara yang kena musibah.

Jangan buat negara seperti negara lain. Karena negara kita begitu besar, beragam, maka indonesia harus menjadi dirinya. 

Kalau medan kita berbeda maka kita tidak bersaing dengan siapapun.

Biarkan kita tirakat dulu, agar pas buka bisa menikmati kenikmatan yang tinggi.

Membuat apapun itu harus dihitung kelengkapannya. 

Sudra: menomorsatukan duit.
Brahma: menomersatukan tanggung jawab diri dihadapan Tuhan.
Pusaka: martabat, harga diri. Pemegang kris itu brahma, jadi tidak mungkin mau jadi presiden.

Pedang tidak boleh jadi pekerjaan. 

Tiap orang punya medan perangnya sendiri, maka iya harus menjadi dirinya sendiri.

Jadilah manusia inklusif. 

Mengapa harus berdaulat?

Komoditas-Ekonomi-Persaingan dagangan.

Cari posisimu, mengerti dirimu.

#Musa tidak bisa membelah lautan.
#Dikira omongan ustadz, mazhab, itu agama.
#Ibarat tela.
#Batal mati karena anjing.

Fuqoha: orang ngerti syariat.
Ulama: punya kaweruh.

Ilmu, iman, roso.

Cepet selesaikan kuliahmu, dosenmu ngeyel, ikutin saja, turutin selera dosenmu. 

Catatn Maiyah 9 Agustus 2018.

Sabtu, 23 Juni 2018

Aku Kenyataan, Yang Tak Mampu Kau Nyatakan

KAMARUDIN

Kau pun
tak mampu membayangiku

Prasangkamu pun
tak benar membayangiku

Lukisanmu
tak pula membayangiku

Tatapanmu juga
tak lihai membayangiku

Rabaanmu pun
tergelincir membayangiku

Karena aku
bukan bayangan,
tapi aku kenyataan,
yang tak mampu kau nyatakan.

[Jogja, 4 Maret 2018]

Sabtu, 16 Juni 2018

Wajahku Seputih Air Susu Yang Mengalir Di Surga

KAMARUDIN


Aku berburu shaf-shaf penghuni surga. Aku gelar sajadah beraroma surga. Sarungku sehalus sutra surga, koko seputih air susu yang mengalir di surga.  

Aku melakukan hal tersebut setiap shalat di masjid. Selalu aku rebut shaf pertama dari jamaah shalat apapun. Pengen dapat surga yang diberitahukan oleh orang-orang.

Di surga itu banyak bidadari yang bebas kita pilih sebagai pasangan kita. Kata orang-orang bidadari itu cantik-cantik, semuanya muda, tidak ada yang tua. Kita bebas makan minum apapun. Minta apapun boleh. 

Pikirku. Aku akan meminta wajahku seputih air susu yang mengalir di surga. wkwk

Itulah yang membuat aku semangat mengejar surga.

Tapi.

Tapi.

Tapi.

Tapi sejak aku bertemu Papuk Yani, aku tidak lagi semangat mengejar surga. Setiap solat aku tidak pernah merebut shaf pertama dengan tujuan surga. Malah aku persilahkan orang lain dahuluan. Jika ada yang lebih terdahulu menginginkannya maka aku berikan padanya.

Bukan alasannya tidak mau masuk surga.

Papuk Yani pernah memberi nasihat padaku. Seperti ini kata Papuk Yani pada waktu itu.

~Cucuku surga dan manusia itu sama-sama ciptaan Tuhan. Surga memang tempat yang indah, tapi ingat! Itu sama seperti kamu, surga dan kamu itu ciptaan Tuhan.

~Tuhanlah tujuan utamamu ibadah. Bukan surga. Surga itu pemberian cinta Tuhan padamu, tapi jika kamu mencintai Tuhan.

Aku tidak membenarkan kata Papuk Yani. Berbohonglah aku kepadanya. Aku mengiyakan dengan perkataan tapi tidak dengan keyakinan.

Teringat dengan pesan guru SD kelas 5 ku beberapa tahun yang lalu. Katanya, kalau kita menggantikan niat solat kita dengan “aku niat solat dzuhur karena surga” neraka siap mencabik-cabik dibelakang.

Merenung aku dalam solat.

“Masak iya aku solat karena surga. Kan surga itu ciptaan Tuhan juga, setara dengan aku. Tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Jadi tidak ada ibadah yang diniatkan kecuali kepada Allah.”

Setelah perenungan. Aku menggali kuburan, mengambil korek, dan pernak-pernik solat. Aku masukkan pernak pernik solatku seperti koko, sarung, peci, dan sajadah. Kemudian aku bakar.

Aku menyesal. Aku lupa kalau aku tidak punya koko, sarung, peci, dan sajadah selain yang aku bakar.

Goblok. Goblok. Goblok.

Air mataku menetes ke atas dengan mata terpejam. Mulut tebuka lebar. Berdengung hahahaha. Aku menertawakan penderitaanku.

Aku pakai saja pakaian seadanya yang dapat menutup aurat. Aku bekerja dengan Jin, aku pakai untuk menutup aurat bagian bawah.

NB. Jin = jeans

Kamis, 14 Juni 2018

Puisi Untuk Kekasih, Maaf Telah Aku Membakarnya

KAMARUDIN


Aku berjalan sendiri di jalan kampung. Tidak melihat siapapun. Aku ingin berbuat baik, tapi tidak ada orang di sana. Mau ngopi tapi tidak ada yang diajak. Mau ngobrol, bercanda, main kartu, ngerokok, tapi tidak ada orang sama sekali.

Aku bertanya kepada diriku, siapa yang harus aku ajak ngerokok? 

Aku kesepian. Aku belum menikah, masih jomblo. Andai sudah menikah, aku akan mengajak istri untuk minum kopi sambil menanyakan harga beras.

Akhirnya aku terima saja perjalanan sunyiku ini.

Aku menghendaki diriku pulang ke rumah. Ah disana tidak ada orang. Aku sendirian. Akhirnya aku mengambil polpen dan selembar kertas. Aku tulis puisi.

Aku berbicara dengan diri sendiri. Hasil pembicaraan ke dalam diriku menghasilkan puisi itu. 

Kekasih, aku persembahkan puisi untukmu. 

Tapi aku baru ingat ternyata diriku masih jomblo. 

Ku sobek puisi itu, lalu membakarnya.

Pikirku, untuk siapa aku membacanya, kalau nyatanya aku jomblo. Tidak ada kekasih yang akan aku sanjung.

Nasib.

***

Aku bercanda. Ku ceritakan tentang diriku yang salah paham saat makan di Alalo. Aku ceritakan seperti ini.

“Mbak sampaian tadi sapa aku gak?”
Mata mbaknya serta vocal suaranya sangat mengena. “Mboten mas. Tidak mas.”
Aku langsung pergi meninggalkan gadis itu, tanpa kata penutup. Tanpa minta maaf.

Ah tidak ada yang menertawakan ceritaku. Sia-sia.

Sebenarnya hidup sendiri itu tidak bisa. Kita butuh perhatian orang lain. Tanggapan orang lain.

Aduh kok malah jadi gini tulisannya. wkwkwk

Coprights @ 2016, Blogger Template Dibuat oleh Templateism | Templatelib